WASPADAI GERAKAN MISIONARIS MADZHAB


"Mari kita kembali kepada al-Qur'an dan Hadits", begitulah slogan beberapa kelompok yang mengklaim dirinya ahlut tauhid, mengklaim bahwa kelompoknya memiliki tauhid yang sangat bersih dari segala macam syirik dan bid'ah. Slogan diawal memang slogan yang baik, namun kadang penuh dengan doktrin yang sudah sejak lama ditolak oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. Penulis menjadi ingat sebuah pepatah dari Ali bin Abi Thalib dalam buku-entah apa judulnya-yang pernah penulis baca, disebutkan bahwa "Istilah kembali kepada al-Qur'an dan Hadits memang merupakan kalimatul hak (kalimat yang benar), namun kadang disalah-artikan".

Dan memang benar, setelah penulis banyak bergelut dan mempelajari berbagai macam firqah di dalam Islam dengan referensi dan sudut pandang dari segala macam arah, penulis menemukan ada sebuah upaya terselubung dari slogan diatas.

Kembalinya kepada al-Qur'an dan Hadits biasanya diartikan bahwa segala sesuatu permasalahan, semuanya sudah ada dalam al-Qur'an dan Hadits. Hal ini tentu memiliki implikasi yang cukup buruk, yakni mengesampingkan peran para ulama dalam memahami al-Qur'an dan Hadits, padahal pendapat ulama (Ijtihad, Ijma' dan Qiyash), diakui sebagai sumber hukum dalam Islam. Alhasil, banyak orang di zaman ini yang memahami agama dengan kemampuan akalnya sendiri, dengan kehendaknya sendiri.

Lebih jauh dari itu, slogan diatas akan bermuara pada suatu tindakan justifikasi, yaitu pengharaman taklid buta dan pengharaman mengikuti madzhab tertentu. Sebagian dari alasan mereka bahwa kita seharusnya mengikuti Nabi Saw., bukan mengikuti imam Syafi'i. Karena agama ini sudah jelas diturunkan oleh Allah kepada baginda Nabi, bukan kepada imam Syafi'i. Lagi-lagi, penulis mengangkat isu ini karena ada sebagian alumni Risba Smantika yang juga berpandangan semacam ini. Dan yang jauh lebih mengerikan, mereka bagaikan merekrut anggota Risba untuk ikut terhadap pemahaman mereka.

Hal ini harus kita waspadai. Mengapa? Pemikiran semacam ini justru akan menjerumuskan terhadap lembah kesesatan. Pikiran sederhana setiap manusia juga mengatakan bahwa realitas yang ada, manusia itu tidak semuanya pintar. Ada yang bodoh dan ada yang malas. Yang bodoh dan yang malas ini tentu akan mengikuti orang-orang yang pintar. Ini pentingnya bermadzhab. Lagipula, bermazhab sudah menjadi Ijma' Ulama. Setiap muslim dari ujung Barat hingga ke ujung Timur, mereka memiliki corak madzhabnya sendiri. Menyatakan dirinya tidak bermadzhab, secara tidak langsung sudah melanggar Ijma' yang dalam kajian hukum Islam, memiliki otoritas yang cukup besar.

Terlebih, isu tentang slogan diatas akan menjadi senjata tajam penyerangan kelompok tersebut kepada masyarakat. Isu-isu bid'ah akan lahir dari slogan diatas. Tahlilan misalnya. Acara tahlilan tentu saja tidak ada dalam al-Qur'an dan Hadits, alhasil tahlilan diserang dengan tuduhan bid'ah. Padahal 99% warga Kuningan melaksanakan tahlilan. Tidakkah mereka gila ingin menumpas golongan mayoritas?

Maka dari itu, waspadai setiap gerakan terselubung di tubuh Risba. Biarkan Risba mengalir dengan agenda yang selaras dengan materi yang diajarkan di sekolah. Penulis dulu perah membuat panduan mengajar Risba, dan Demi Allah, seluruh materi yang penulis cantumkan, semuanya merupakan materi-materi pelajaran agama dari kelas X sampai kelas XII. Entah kemana panduan mengajar itu. Terakhir yang merupakan pesan penulis, jangan sampai agenda Risba berbenturan dengan budaya yang berkembang di masyarakat.

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEUNGGULAN BAHASA ARAB