STOP PENGKAFIRAN SESAMA UMAT ISLAM

 

Sudah banyak slogan muncul di tengah-tengah masyarakat, salah satunya yang paling kental adalah slogan "Syiah Bukan Islam". Bahkan di tubuh Risba sendiri (maksudnya beberapa alumni), ada yang masih menganggap bahwa seluruh Syiah adalah kafir.

Tentu cara pemikiran semacam ini tidak mendasar sama sekali. Penulis lebih setuju bahwa isu ini, yaitu pengkafiran sesama umat Islam, hanya merupakan agenda politik yang dilancarkan dua negara kuat di Timur Tengah, Saudi dan Iran. Perang yang terjadi di negara-negara gurun, baik di Yaman, Suriah, Irak, dan di Afrika Utara, tidak lain merupakan proxy war dari kedua negara tersebut. Saudi yang mengklaim dirinya representasi dari muslim Sunni, melakukan segala upaya untuk membenturkan gejolak fisik antara Sunni dan Syiah.

Pengkafiran terhadap Syiah tentu tidak objektif sama sekali. Secara bahasa, Syiah berarti pendukung, sama seperti istilah Bobotoh dalam bahasa Sunda yang juga bermakna pendukung. Jika kita merujuk pada sejarah Islam, dapat dilihat bahwa Syiah lahir karena nuansa politik Semakin lama semakin lama, benih-benih agama, baik akidah maupun syariat (yang semuanya bermuara pada konsep Imamah), akhirnya menjadi sekat pemisah antara Syiah dan Sunni.

Mengapa gerakan takfiri atau pengkafiran ini menjadi topik menarik bagi penulis? Tentu tidak lain untuk menjaga solidaritas sesama umat Islam. Bagi penulis, isu-isu semacam ini hanya berkembang pesat di Timur Tengah dengan landasan politik yang cukup kuat. Jangan sampai isu semacam ini muncul di Indonesia, dan melahirkan gejolak di masyarakat, sehingga terjadilah konflik horizontal antara kelompok Sunni dan Syiah seperti yang terjadi di Madura tahun-tahun sebelumnya.

Risba harus berperan aktif menyampaikan gagasan-gagasan perdamaian, dengan tidak terpengaruh dan terhanyut oleh gerakan-gerakan yang lahir dari konflik di Timur Tengah.

Adapun perbedaan antara Sunni dan Syiah, ya, penulis mengakui terdapat banyak perbedaan. Namun harus diketahui bahwa dalam tubuh Syiah sendiri, terjadi perpecahan ke dalam belasan bahkan puluhan kelompok. Bahkan antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya saling mengkafirkan.

Alhasil, pengkafiran kepada suatu kelompok tertentu, baik kepada Syiah maupun Wahabi (dua mata pisau yang saling berseberangan), tidak dibenarkan dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Perlu ditekankan disini, bahwa pembaca harus bisa membedakan antara istilah "kafir" dengan "sesat (dhalal)". Istilah kafir ini akan memberikan implikasi yang sangat besar, bahkan bisa menjadikan kita kafir jika pengkafiran yang kita lakukan tidak terbukti. Lebih jauh dari itu, pengkafiran bisa bermakna penghalalan darah dan harta.

Namun begitu, bukan berarti penulis membenarkan Risba untuk mengadopsi ajaran Syiah. Jelas bukan itu maksudnya. Bagi penulis, ajaran Syiah adalah ajaran sesat yang wajib ditolak, namun dalam pandangan penulis pula, tidak semua Syiah di muka bumi ini (yang jumlahnya sekitar 250.000.000 pemeluk), tidak semuanya kafir. Untuk itu, jangan sampai Risba menebarkan isu yang cukup sensitif ini di lingkungan SMAN 3 Kuningan.

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEUNGGULAN BAHASA ARAB