JAUHKAN RISBA DARI KEPENTINGAN PARTAI POLITIK


Dalam beberapa aturan mengenai partai politik, termasuk Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 dengan beberapa UU penggantinya, serta ditegaskan dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum, jelas bahwasanya ada beberapa tempat yang dilarang untuk dijadikan tempat kampanye partai politik, yaitu fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan. Ketiga area ini harus steril dari setiap atribut partai politik. Tidak ada alasan partai politik masuk dan melakukan kampanye di tempat-tempat tersebut.


Atribut-atribut yang dimaksud termasuk spanduk, pamflet, bahkan ajakan dari pengurus partai politik, termasuk juga didalamnya adalah film. Hal yang menjadi perhatian penulis adalah terjadinya kampanye terselubung dari beberapa alumni Risba Smantika dalam kegiatan Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa), dimana ada sebuah film yang diputar oleh para alumni-alumni tersebut. Namun sayang, film yang diputar bukanlah film yang memiliki nuansa objektif, namun lebih memihak terhadap salah satu kelompok, bahkan yang penulis maksud disini adalah partai politik.

Judul dari film tersebut adalah “Sang Murabbi”. Memang jika kita melihat dari segi isi film, ada nilai-nilai keagamaan disana. Namun, film tersebut tidak lain merupakan film yang menggambarkan sejarah perjalanan sebuah partai politik. Pada saat menonton film tersebut bersama anak-anak Risba yang lain, penulis merasa miris, mengapa harus Sang Murabbi? Tidakkah ada film lain yang lebih tepat?

Jelas disini adanya pelanggaran yang cukup mendasar. Ada sebuah upaya pengkristalan dari beberapa oknum alumni Risba untuk merekrut juniornya menjadi aktivis partai politik tertentu. Tentu kita tidak mengharapkan adanya upaya tidak legal semacam ini.

Risba Smantika harus terbebas dari kepentingan partai politik. Oleh karena itu, penulis mengajak kepada seluruh anggota-anggota Risba untuk memunculkan semangat kritis terhadap setiap gerakan yang dibawa oleh para alumni Risba Smantika. Penulis lebih setuju jika segala sesuatu yang berkaitan erat dengan organisasi di sekolah (baik intra maupun ekstra), tetap dikendalikan oleh pembina masing-masing. 

Maka dari itu, jika anggota Risba mencium adanya upaya terselubung dari oknum alumni Risba Smantika yang berkaitan erat dengan kepentingan partai politik, segera laporkan kepada pembina ekskul Risba Smantika. Penulis hanya berpesan, jauhkan Risba Smantika dari kepentingan partai politik!

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEUNGGULAN BAHASA ARAB