AGENDA RISBA HARUS SELARAS DENGAN MAYORITAS UMAT ISLAM DI INDONESIA


Mayoritas umat Islam di Indonesia memiliki pandangan umum yang harus diketahui. Jika kita merujuk pada madzhab yang dianut oleh kebanyakan umat Islam di Indonesia, tentu saja kita akan melihat dengan jelas bahwa umat Islam di Indonesia menganut madzhab Syafi'i dalam bidang fikih.

Oleh karena itu, hendaknya agenda-agenda yang dikembangkan dalam setiap materi yang dipelajari dalam Risba, harus menggunakan kaidah-kaidah madzhab Syafi'i untuk menghindari terbenturnya ajaran Risba dengan kehendak anggota-anggota Risba yang memang menganut madzhab Syafi'i. Apalagi di kabupaten Kuningan sendiri, madzhab Syafi'i menjadi mayoritas dan diikuti oleh seluruh warga dari berbagai macam organisasi masyarakat. Alhasil, dalam shalat subuh misalnya, penulis lebih setuju jika Risba masih menggunakan qunut subuh yang dianggap sebagai amalan sunnah ab'ad dalam madzhab Syafi'i. Tentu masalah qunut ini masih menjadi khilafiyah di kalangan fuqaha, namun perbedaan ini tidak merusak hubungan diantara setiap madzhab dalam Islam. Madzhab Syafi'i menganggap bahwa qunut subuh adalah sunnah, sementara tiga madzhab yang lain menganggap bahwa qunut subuh tidak sunnah (mubah). Namun dalam perjalanan penulis bersama Risba, penulis merasa pandangan beberapa alumni Risba masih ada yang menganggap bahwa qunut subuh adalah bid'ah. Jelas sekali terlihat landasan hukum yang buruk yang dibawa oleh beberapa oknum alumni Risba. Penulis lebih setuju jika alumni-alumni Risba hanya mengajar dalam materi membaca al-Qur'an. Tidak lebih. Biarkan masalah fikih diserahkan kepada pembina Risba dengan tetap mengikuti prosedur materi yang diajarkan di sekolah.

Dalam materi akidah, mayoritas umat Islam di Indonesia menganut madzhab Asy'ari yang mengajarkan sifat wajib 20 bagi Allah, sifat mustahil 20 bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, 4 sifat wajib bagi Rasul, 4 sifat mustahil bagi rasul, dan 1 sifat jaiz bagi rasul. Maka poin akidah juga harus selaras dengan hal ini. Jangan sampai ada oknum alumni Risba yang mengajarkan akidah hingga pada masalah pembagian tauhid menjadi 3, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma was sifat. Landasan berpikir diantara kedua jenis akidah ini memiliki perbedaan yang cukup radikal. Maka dari itu, penulis juga mengajak agar Risba tetap mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni) yang dipegang teguh oleh mayoritas umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Dalam hal bernegara, diharapkan Risba juga tidak terpancing dengan isu-isu khilafah yang dibawa oleh beberapa organisasi masyarakat. Biarkan Risba Smantika ini tetap mempertahankan keutuhan NKRI.

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEUNGGULAN BAHASA ARAB