About

Idik Saeful Bahri mengucapkan selamat datang dan selamat mencari inspirasi di Blog-blog yang sudah menjadi bagian dari blog Idikms. Jangan sungkan untuk memberikan kontribusi dan kritik, serta jangan bosan untuk kembali mampir disini.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

DIX VUL RY

DIX VUL RY

Selasa, 17 November 2015

STOP PENGKAFIRAN SESAMA UMAT ISLAM

 

Sudah banyak slogan muncul di tengah-tengah masyarakat, salah satunya yang paling kental adalah slogan "Syiah Bukan Islam". Bahkan di tubuh Risba sendiri (maksudnya beberapa alumni), ada yang masih menganggap bahwa seluruh Syiah adalah kafir.

Tentu cara pemikiran semacam ini tidak mendasar sama sekali. Penulis lebih setuju bahwa isu ini, yaitu pengkafiran sesama umat Islam, hanya merupakan agenda politik yang dilancarkan dua negara kuat di Timur Tengah, Saudi dan Iran. Perang yang terjadi di negara-negara gurun, baik di Yaman, Suriah, Irak, dan di Afrika Utara, tidak lain merupakan proxy war dari kedua negara tersebut. Saudi yang mengklaim dirinya representasi dari muslim Sunni, melakukan segala upaya untuk membenturkan gejolak fisik antara Sunni dan Syiah.

Pengkafiran terhadap Syiah tentu tidak objektif sama sekali. Secara bahasa, Syiah berarti pendukung, sama seperti istilah Bobotoh dalam bahasa Sunda yang juga bermakna pendukung. Jika kita merujuk pada sejarah Islam, dapat dilihat bahwa Syiah lahir karena nuansa politik Semakin lama semakin lama, benih-benih agama, baik akidah maupun syariat (yang semuanya bermuara pada konsep Imamah), akhirnya menjadi sekat pemisah antara Syiah dan Sunni.

Mengapa gerakan takfiri atau pengkafiran ini menjadi topik menarik bagi penulis? Tentu tidak lain untuk menjaga solidaritas sesama umat Islam. Bagi penulis, isu-isu semacam ini hanya berkembang pesat di Timur Tengah dengan landasan politik yang cukup kuat. Jangan sampai isu semacam ini muncul di Indonesia, dan melahirkan gejolak di masyarakat, sehingga terjadilah konflik horizontal antara kelompok Sunni dan Syiah seperti yang terjadi di Madura tahun-tahun sebelumnya.

Risba harus berperan aktif menyampaikan gagasan-gagasan perdamaian, dengan tidak terpengaruh dan terhanyut oleh gerakan-gerakan yang lahir dari konflik di Timur Tengah.

Adapun perbedaan antara Sunni dan Syiah, ya, penulis mengakui terdapat banyak perbedaan. Namun harus diketahui bahwa dalam tubuh Syiah sendiri, terjadi perpecahan ke dalam belasan bahkan puluhan kelompok. Bahkan antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya saling mengkafirkan.

Alhasil, pengkafiran kepada suatu kelompok tertentu, baik kepada Syiah maupun Wahabi (dua mata pisau yang saling berseberangan), tidak dibenarkan dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Perlu ditekankan disini, bahwa pembaca harus bisa membedakan antara istilah "kafir" dengan "sesat (dhalal)". Istilah kafir ini akan memberikan implikasi yang sangat besar, bahkan bisa menjadikan kita kafir jika pengkafiran yang kita lakukan tidak terbukti. Lebih jauh dari itu, pengkafiran bisa bermakna penghalalan darah dan harta.

Namun begitu, bukan berarti penulis membenarkan Risba untuk mengadopsi ajaran Syiah. Jelas bukan itu maksudnya. Bagi penulis, ajaran Syiah adalah ajaran sesat yang wajib ditolak, namun dalam pandangan penulis pula, tidak semua Syiah di muka bumi ini (yang jumlahnya sekitar 250.000.000 pemeluk), tidak semuanya kafir. Untuk itu, jangan sampai Risba menebarkan isu yang cukup sensitif ini di lingkungan SMAN 3 Kuningan.

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms)

WASPADAI GERAKAN MISIONARIS MADZHAB


"Mari kita kembali kepada al-Qur'an dan Hadits", begitulah slogan beberapa kelompok yang mengklaim dirinya ahlut tauhid, mengklaim bahwa kelompoknya memiliki tauhid yang sangat bersih dari segala macam syirik dan bid'ah. Slogan diawal memang slogan yang baik, namun kadang penuh dengan doktrin yang sudah sejak lama ditolak oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. Penulis menjadi ingat sebuah pepatah dari Ali bin Abi Thalib dalam buku-entah apa judulnya-yang pernah penulis baca, disebutkan bahwa "Istilah kembali kepada al-Qur'an dan Hadits memang merupakan kalimatul hak (kalimat yang benar), namun kadang disalah-artikan".

Dan memang benar, setelah penulis banyak bergelut dan mempelajari berbagai macam firqah di dalam Islam dengan referensi dan sudut pandang dari segala macam arah, penulis menemukan ada sebuah upaya terselubung dari slogan diatas.

Kembalinya kepada al-Qur'an dan Hadits biasanya diartikan bahwa segala sesuatu permasalahan, semuanya sudah ada dalam al-Qur'an dan Hadits. Hal ini tentu memiliki implikasi yang cukup buruk, yakni mengesampingkan peran para ulama dalam memahami al-Qur'an dan Hadits, padahal pendapat ulama (Ijtihad, Ijma' dan Qiyash), diakui sebagai sumber hukum dalam Islam. Alhasil, banyak orang di zaman ini yang memahami agama dengan kemampuan akalnya sendiri, dengan kehendaknya sendiri.

Lebih jauh dari itu, slogan diatas akan bermuara pada suatu tindakan justifikasi, yaitu pengharaman taklid buta dan pengharaman mengikuti madzhab tertentu. Sebagian dari alasan mereka bahwa kita seharusnya mengikuti Nabi Saw., bukan mengikuti imam Syafi'i. Karena agama ini sudah jelas diturunkan oleh Allah kepada baginda Nabi, bukan kepada imam Syafi'i. Lagi-lagi, penulis mengangkat isu ini karena ada sebagian alumni Risba Smantika yang juga berpandangan semacam ini. Dan yang jauh lebih mengerikan, mereka bagaikan merekrut anggota Risba untuk ikut terhadap pemahaman mereka.

Hal ini harus kita waspadai. Mengapa? Pemikiran semacam ini justru akan menjerumuskan terhadap lembah kesesatan. Pikiran sederhana setiap manusia juga mengatakan bahwa realitas yang ada, manusia itu tidak semuanya pintar. Ada yang bodoh dan ada yang malas. Yang bodoh dan yang malas ini tentu akan mengikuti orang-orang yang pintar. Ini pentingnya bermadzhab. Lagipula, bermazhab sudah menjadi Ijma' Ulama. Setiap muslim dari ujung Barat hingga ke ujung Timur, mereka memiliki corak madzhabnya sendiri. Menyatakan dirinya tidak bermadzhab, secara tidak langsung sudah melanggar Ijma' yang dalam kajian hukum Islam, memiliki otoritas yang cukup besar.

Terlebih, isu tentang slogan diatas akan menjadi senjata tajam penyerangan kelompok tersebut kepada masyarakat. Isu-isu bid'ah akan lahir dari slogan diatas. Tahlilan misalnya. Acara tahlilan tentu saja tidak ada dalam al-Qur'an dan Hadits, alhasil tahlilan diserang dengan tuduhan bid'ah. Padahal 99% warga Kuningan melaksanakan tahlilan. Tidakkah mereka gila ingin menumpas golongan mayoritas?

Maka dari itu, waspadai setiap gerakan terselubung di tubuh Risba. Biarkan Risba mengalir dengan agenda yang selaras dengan materi yang diajarkan di sekolah. Penulis dulu perah membuat panduan mengajar Risba, dan Demi Allah, seluruh materi yang penulis cantumkan, semuanya merupakan materi-materi pelajaran agama dari kelas X sampai kelas XII. Entah kemana panduan mengajar itu. Terakhir yang merupakan pesan penulis, jangan sampai agenda Risba berbenturan dengan budaya yang berkembang di masyarakat.

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms)

Minggu, 15 November 2015

AGENDA RISBA HARUS SELARAS DENGAN MAYORITAS UMAT ISLAM DI INDONESIA


Mayoritas umat Islam di Indonesia memiliki pandangan umum yang harus diketahui. Jika kita merujuk pada madzhab yang dianut oleh kebanyakan umat Islam di Indonesia, tentu saja kita akan melihat dengan jelas bahwa umat Islam di Indonesia menganut madzhab Syafi'i dalam bidang fikih.

Oleh karena itu, hendaknya agenda-agenda yang dikembangkan dalam setiap materi yang dipelajari dalam Risba, harus menggunakan kaidah-kaidah madzhab Syafi'i untuk menghindari terbenturnya ajaran Risba dengan kehendak anggota-anggota Risba yang memang menganut madzhab Syafi'i. Apalagi di kabupaten Kuningan sendiri, madzhab Syafi'i menjadi mayoritas dan diikuti oleh seluruh warga dari berbagai macam organisasi masyarakat. Alhasil, dalam shalat subuh misalnya, penulis lebih setuju jika Risba masih menggunakan qunut subuh yang dianggap sebagai amalan sunnah ab'ad dalam madzhab Syafi'i. Tentu masalah qunut ini masih menjadi khilafiyah di kalangan fuqaha, namun perbedaan ini tidak merusak hubungan diantara setiap madzhab dalam Islam. Madzhab Syafi'i menganggap bahwa qunut subuh adalah sunnah, sementara tiga madzhab yang lain menganggap bahwa qunut subuh tidak sunnah (mubah). Namun dalam perjalanan penulis bersama Risba, penulis merasa pandangan beberapa alumni Risba masih ada yang menganggap bahwa qunut subuh adalah bid'ah. Jelas sekali terlihat landasan hukum yang buruk yang dibawa oleh beberapa oknum alumni Risba. Penulis lebih setuju jika alumni-alumni Risba hanya mengajar dalam materi membaca al-Qur'an. Tidak lebih. Biarkan masalah fikih diserahkan kepada pembina Risba dengan tetap mengikuti prosedur materi yang diajarkan di sekolah.

Dalam materi akidah, mayoritas umat Islam di Indonesia menganut madzhab Asy'ari yang mengajarkan sifat wajib 20 bagi Allah, sifat mustahil 20 bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, 4 sifat wajib bagi Rasul, 4 sifat mustahil bagi rasul, dan 1 sifat jaiz bagi rasul. Maka poin akidah juga harus selaras dengan hal ini. Jangan sampai ada oknum alumni Risba yang mengajarkan akidah hingga pada masalah pembagian tauhid menjadi 3, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma was sifat. Landasan berpikir diantara kedua jenis akidah ini memiliki perbedaan yang cukup radikal. Maka dari itu, penulis juga mengajak agar Risba tetap mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni) yang dipegang teguh oleh mayoritas umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Dalam hal bernegara, diharapkan Risba juga tidak terpancing dengan isu-isu khilafah yang dibawa oleh beberapa organisasi masyarakat. Biarkan Risba Smantika ini tetap mempertahankan keutuhan NKRI.

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms)

JAUHKAN RISBA DARI KEPENTINGAN PARTAI POLITIK


Dalam beberapa aturan mengenai partai politik, termasuk Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 dengan beberapa UU penggantinya, serta ditegaskan dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum, jelas bahwasanya ada beberapa tempat yang dilarang untuk dijadikan tempat kampanye partai politik, yaitu fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan. Ketiga area ini harus steril dari setiap atribut partai politik. Tidak ada alasan partai politik masuk dan melakukan kampanye di tempat-tempat tersebut.


Atribut-atribut yang dimaksud termasuk spanduk, pamflet, bahkan ajakan dari pengurus partai politik, termasuk juga didalamnya adalah film. Hal yang menjadi perhatian penulis adalah terjadinya kampanye terselubung dari beberapa alumni Risba Smantika dalam kegiatan Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa), dimana ada sebuah film yang diputar oleh para alumni-alumni tersebut. Namun sayang, film yang diputar bukanlah film yang memiliki nuansa objektif, namun lebih memihak terhadap salah satu kelompok, bahkan yang penulis maksud disini adalah partai politik.

Judul dari film tersebut adalah “Sang Murabbi”. Memang jika kita melihat dari segi isi film, ada nilai-nilai keagamaan disana. Namun, film tersebut tidak lain merupakan film yang menggambarkan sejarah perjalanan sebuah partai politik. Pada saat menonton film tersebut bersama anak-anak Risba yang lain, penulis merasa miris, mengapa harus Sang Murabbi? Tidakkah ada film lain yang lebih tepat?

Jelas disini adanya pelanggaran yang cukup mendasar. Ada sebuah upaya pengkristalan dari beberapa oknum alumni Risba untuk merekrut juniornya menjadi aktivis partai politik tertentu. Tentu kita tidak mengharapkan adanya upaya tidak legal semacam ini.

Risba Smantika harus terbebas dari kepentingan partai politik. Oleh karena itu, penulis mengajak kepada seluruh anggota-anggota Risba untuk memunculkan semangat kritis terhadap setiap gerakan yang dibawa oleh para alumni Risba Smantika. Penulis lebih setuju jika segala sesuatu yang berkaitan erat dengan organisasi di sekolah (baik intra maupun ekstra), tetap dikendalikan oleh pembina masing-masing. 

Maka dari itu, jika anggota Risba mencium adanya upaya terselubung dari oknum alumni Risba Smantika yang berkaitan erat dengan kepentingan partai politik, segera laporkan kepada pembina ekskul Risba Smantika. Penulis hanya berpesan, jauhkan Risba Smantika dari kepentingan partai politik!

Oleh : Idik Saeful Bahri (@idikms)

Jumat, 06 November 2015

Logo SMAN 3 Kuningan


Logo Risba Smantika 14


Logo Risba Smantika 13


Logo Risba Smantika 12


Logo Risba Smantika 11


Logo Risba Smantika 10


Logo Risba Smantika 9


Logo Risba Smantika 8


Logo Risba Smantika 7


Logo Risba Smantika 6


Logo Risba Smantika 5


IDIK M S

IDIK M S

Partisipasi Publik

Anda bisa ikut berpartisipasi dalam memberikan sebuah opini, informasi, data yang bisa di download atau apapun itu, dengan mengirimkan melalui E-Mail idikms@gmail.com dengan format:
1. Nama Pengirim
2. Judul Bahan
3. Masukkan alamat Blog yang hendak menampilkan data anda
Sebagai contoh :
Nama Pengirim = Idik Saeful Bahri
Judul Bahan = DOWNLOAD E-BOOK MAHASISWA
Alamat Blog = idikms.blogspot.com, 3kuningan.blogspot.com, dan viking-bobotoh-persib.blogspot.com

IDIK SAEFUL BAHRI

IDIK SAEFUL BAHRI